Lembah Napa
Posted: 22 July 2008 13:56 : www.gsn-soeki.com/wouw/
Senin, 12 Mei 2008 | 07:31 WIB
Memangnya, lembah itu lagi ‘napa? Kan lembah itu baik-baik saja dan tidak ‘napa-napa?

Lima tahun setelah saya menulis “Napa dan Sonoma” di Jalansutra, saya berkunjung lagi ke Napa Valley di California. Kalau pada tulisan terdahulu saya menyebut keinginan untuk berkunjung ke kastil yang sedang dibangun oleh Daryl Sattui, kali ini keinginan itu kesampaian. Daryl memerlukan waktu 15 tahun untuk membangun sebuah kastil bergaya Tuscany dengan setting California.

Dalam bahasa Indian, “napa” berarti “land of plenty” (tanah subur yang memberi kemakmuran). Orang Indian berkebun di kawasan ini, menghasilkan sayur-mayur dan buah secara berkelimpahan. Pada tahun 1836, George Calvert Yount menemukan potensi Lembah Napa sebagai tempat ideal untuk menanam anggur.

Pada tahun 1861, winery komersial pertama didirikan oleh Charles Krug. Langkahnya segera diikuti oleh para pembuat wine lain. Dalam jangka waktu kurang dari tiga dasawarsa, di Napa telah berdiri sekitar 140 wineries. Orang-orang Prancis dan Italia yang memang terkenal dengan tradisi pembuatan wine, mulai berdatangan dan bermukim di kawasan ini.

“Ledakan” pertumbuhan perkebunan anggur di Napa ternyata membawa musibah. Tiba-tiba muncul berbagai hama yang memusnahkan tanaman anggur di kawasan itu. Ketambahan lagi dengan larangan membuat wine yang dikeluarkan pada tahun 1920. Secara teknis habislah riwayat Napa.

Larangan itu baru dicabut pada tahun 1933. Tetapi, trauma sebelumnya membuat “renaissance” pembuatan wine berjalan amat lambat di Napa. Selama tiga dasawarsa, Lembah Napa bagai tertidur.

Salah seorang yang membesarkan Napa adalah seorang yang sekarang punya nama besar, yaitu Robert Mondavi. Orang keturunan Italia ini mengawali pembuatan wine di Napa pada tahun 1966, dan pada akhir dasawarsa itu sudah mulai memasarkan red wine ke pasar. Cabernet sauvignon dari Robert Mondavi itu ternyata cukup menggemparkan. Tak lama sesudah itu, pada tahun 1976 produk Robert Mondavi tampil sebagai unggulan nomor wahid pada sebuah uji rasa wine di Paris.

Reputasi Napa sebagai penghasil anggur dan wine utama dunia tidak tertahan lagi. Tiba-tiba dunia melihat ada “dunia lain” yang menghasilkan anggur dan wine di luar Eropa. Dari sinilah mulai muncul istilah “new world” dalam perdagangan wine.

Di samping mutu anggur dan mutu wine yang memang unggul, sukses Napa sebagai wine country didukung oleh pemasaran yang jitu pula. Pada dasawarsa 1980-an, Robert Mondavi berkeliling Amerika Serikat untuk memberi edukasi tentang wine kepada para pemilik restoran dan para sommelier (wine butler). Robert Mondavi juga menyelenggarakan berbagai acara jumpa masyarakat untuk berbicara tentang arti wine dalam budaya dan peradaban.

Pamor wine dari Napa semakin kinclong. Dalam waktu singkat, Napa – dan juga Sonoma yang bertetanggaan – telah menjadi pemasok penting wine bagi dunia. Dari segi kuantitas, produksinya didukung oleh luasan lahan yang memungkinkan. Sedangkan dari segi kualitas tampak adanya peningkatan mutu yang didukung oleh penerimaan (acceptance) dari para afficionados.

Kini, di Napa dapat dijumpai lebih dari 400 wineries – besar maupun kecil. Yang besar-besar – seperti Robert Mondavi, Black Stallion, Sutter Home, Vittorio Sattui, Mumm, Sterling, Trinchero, dan lain-lain – selalu memiliki “showroom” mewah untuk menarik pengunjung.

Hadirnya industri wine di Lembah Napa memicu lahirnya industri pariwisata di kawasan yang memang indah ini. Jaraknya yang hanya satu jam berkendara dari San Francisco menjadikan Lembah Napa sebagai atraksi turis yang menarik. Jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia telah datang ke Napa.

Wine Train merupakan salah satu atraksi yang diperkenalkan tiga dasawarsa yang silam untuk menarik wisatawan. Keretapi rute pendek ini mengangkut penumpang “jalan-jalan” melintasi kebun anggur. Di dalam kereta diselenggarakan wine tasting, dan sekaligus juga makan siang atau makan malam. Hingga sekarang Wine Train masih merupakan atraksi turis yang populer.

Hotel-hotel pun bermunculan untuk melayani wisatawan yang semakin meningkat jumlahnya. Kini, di Lembah Napa terdapat berbagai hotel bagus, termasuk juga hotel butik yang eksklusif. Spa – khususnya mud spa – di kawasan ini merupakan kemewahan yang banyak dicari orang.

Tentu saja bisnis restoran pun berkembang pesat di Lembah Napa. Dalam tulisan sebelumnya telah saya kemukakan tentang “The French Laundry” yang merupakan restoran terbaik di Amerika Serikat. Tetapi, “The French Laundry” tidak sendirian. Banyak restoran yang menyajikan masakan Prancis dan Italia – sesuai dengan tradisi wine – yang mencapai sukses dan nama besar di Napa. Bahkan kafe-kafe kecil yang sempat saya kunjungi mencuatkan kesan finesse yang identik dengan budaya wine.

Jangan khawatir, bila Anda termasuk shopperholics, di Napa juga ada tempat belanja, kok. Di Yountville, ada sebuah bekas winery kuno yang dirombak menjadi tempat perbelanjaan. Namanya Vintage 1870 Marketplace. Di samping beberapa kafe yang lucu, Vintage 1870 juga menjadi rumah bagi berbagai brand names internasional, serta butik-butik mungil yang eksklusif.

Robert Mondavi, dan juga para pembuat wine lainnya di Napa dan Sonoma, kini menikmati hidup berkelimpahan. Orang-orang yang terbang dengan balon udara tentulah dapat melihat puri besar mewah di puncak bukit indah yang dimiliki oleh Robert Mondavi. Dari udara kita juga melihat betapa besarnya “pabrik-pabrik” wine yang tersebar di kawasan ini.

Kemewahan juga merupakan display penting di setiap wineries yang membuka pintunya untuk wine tasting. Robert Mondavi, misalnya, memberi tekanan pada kaitan wine dan budaya. Di tempatnya, ia memajang koleksi lukisan, patung, dan berbagai karya seni adiluhung. Di Napa, Mondavi bahkan sudah menjadi seolah-olah event organizer untuk berbagai konser musik – khususnya konser jazz yang sudah menjadi agenda berkelas dunia di Napa.

Kemewahan juga menonjol di Vittorio Sattui winery. Winery-nya besar, dikelilingi taman luas yang indah dan asri. Ada sebuah gedung besar yang merupakan marketplace – tempat berjualan. Di sini tersedia berbagai jenis keju dari Italia dan Prancis, berbagai suvenir yang berkaitan dengan wine, dan tentu saja wine itu sendiri. Sattui memang secara eksklusif menjual wine kepada mereka yang berkunjung ke winery, dan juga kemudian melayani mereka yang memesan langsung. Karena itu “merek” Sattui tidak pernah kita jumpai di toko wine.

Di marketplace itu pengunjung juga dapat membeli sandwich dan panini untuk disantap di bangku-bangku taman yang disediakan. Begitu indahnya taman ini, sekarang banyak orang yang menyelenggarakan pernikahan di Sattui winery.

Masih dalam lingkungan kebun anggurnya, Sattui baru saja menyelesaikan pembangunan kastil yang disebutnya Castello di Amorosa. Untuk membangun kastil ini, Daryl Sattui memboyong 170 kontainer bahan bangunan dari Italia, agar bangunan itu benar-benar mirip dengan kastil-kastil asli di Tuscany sekitar 800 tahun yang silam. Kastil itu juga dilengkapi dengan cellar (gua bawah tanah untuk menyimpan anggur) seperti tradisi aslinya.

Gambaran di atas memang mencerminkan betapa tebalnya kocek para pemilik wineries di Napa. Tetapi, rupanya mereka tidak melupakan kewajibannya kepada masyarakat. Setiap tahun, di Napa diselenggarakan Lelang Wine yang menghasilkan jutaan dolar. Jumlah itu dihibahkan kepada masyarakat melalui berbagai proyek sosial. Di samping itu, masing-masing winery juga melakukan proyek-proyek sosial mereka sendiri-sendiri. Robert Mondavi, misalnya, membangun Mondavi Center untuk seni pertunjukan dan menghibahkannya untuk Universitas California di Davis.


Bondan Winarno

Sumber: Kompas.com