Koleksi artikel Karir, Komputer, Pengembangan Pribadi, Rohani dll
Home Terbaru Populer Web Links 20 Sep 2019
GSN recommended web :
Ide2 bisnis, ide2 blog dari Cosa Aranda





Search

Artikel Web Link

Berlangganan artikel terbaru di GSN WOUW:

WOUW Online Support:
YM globalgsn
YM ID: globalgsn

Kategori
Excel Tips
Film Bioskop
Humor
Karir
Keluarga
Komputer & Internet
Pemasaran
Pengembangan Pribadi
Pernikahan
Relasi
Rohani
Virus & Antivirus
Webmaster
Lain-lain

BOOM ke puluhan situs. Hanya 30rb++ !!!

Pasang Iklan di GSN Wouw

Haryono Tours & Travel

Dynamis IT Superstore

Sumber Informasi



Feed Back
Nama:
Email:
Pertanyaan/ Masukan/ Request Artikel/ Comment:

. . . .

Untuk mengundang Motivator Top Indonesia di Perusahaan / Organisasi Anda bisa kunjungi website dibawah ini:

Motivator Indonesia

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (70)
Rabu, 11 Juni 2008 | 07:42 WIB
[Tayang: Senin - Jumat]


Cermin Gulshan, Cermin Halmiyon (2)

Gulshan adalah sebuah desa di Uzbekistan yang dipotong-potong oleh garis perbatasan Kyrgyzstan yang hanya para komrad Soviet dan Tuhan yang tahu apa mengapanya. Ada perbatasan di tengah gang kecil, ada keluarga yang dipecah-pecah oleh batas negara, ada bangunan rumah yang separuh ikut Uzbekistan separuh ikut Kyrgyzstan. Tepat di sebelah Gulshan, ada desa Halmiyon. Orang-orangnya, kulturnya, rumah-rumahnya, bahasanya, semua sama persis dengan Gulshan, yang cuma sepuluh langkah kaki jauhnya. Bedanya, di Halmiyon yang berkibar adalah bendera merah Kyrgyzstan.

Saidullo mengendarai mobil Tico-nya, made in Uzbekistan, membawa saya melintasi jalan setapak di belakang desa. Jalan ini tak beraspal dan becek. Gunung-gunung salju berjajar di hadapan. Itu gunungnya Kyrgyzstan, Negeri Gunung Surgawi yang memang tak pernah lepas dari gunung dan salju. Sebenarnya jalan setapak ini juga sudah masuk wilayah teritorial Kyrgyzstan. Saya sedang dalam misi penyelundupan lintas batas tanpa paspor masuk ke wilayah Kyrgyzstan secara ilegal. Tetapi kata Saidullo, ini sudah biasa, orang-orang Halmiyon pun tidak mungkin bisa hidup tanpa interaksi dengan Gulshan, demikian pula sebaliknya. Apalagi pernikahan internasional antara penduduk dua desa sudah sangat lazim.

Saidullo mengemudikan kendaraannya ke pusat Halmiyon. Saya dibawa ke sebuah sekolah, gedungnya berdiri megah, papan namanya bertulis "Sekolah Toktogul No. 1". Bapak kepala sekolah, Juma Yuldeshev, menemani saya berkeliling.

"Di sini semua muridnya orang Uzbek," kata bapak Juma yang satu giginya sudah berlapis emas, "tetapi kami giat belajar bahasa Kirghiz."

Di ruang utama setelah pintu besar saya melihat tembok yang dipenuhi poster bergambar peta Kyrgyzstan, bendera, lambang negara, lagu kebangsaan. Ada motif-motif dekorasi yang khas suku nomaden, seperti halnya kultur bangsa Kirghiz. Semua tulisan masih dalam huruf Rusia, sangat berbeda dengan Uzbekistan yang menghapus peninggalan Soviet termasuk huruf-hurufnya.

Bapak Juma membawa saya ke museum sekolah, di ruang bawah tanah. Ia menunjukkan peninggalan sejarah Kyrgyzstan, seperti alat tenun, pengaduk susu, patung-patung purbakala, kunci primitif dari kayu yang ukurannya sebesar telapak tangan (lubang kuncinya lebih besar lagi), sulam-sulaman shyrdak dengan desain motif ala Kirghiz, sampai setrika kuno dari zaman baheula. Semuanya begitu asing di sini. Tentu saja karena asing makanya dimuseumkan.

Barang-barang yang disimpan di museum ini semuanya adalah peninggalan budaya bangsa Kirghiz, yang harus dipelajari oleh murid-murid etnis Uzbek di sini. Bukan hanya asing bagi saya, bahkan bagi murid-murid pun benda-benda di museum sekolah ini unik dan eksotik. Bangsa Uzbek, terlebih lagi yang mendiami Lembah Ferghana, sudah lama menanggalkan kultur nomaden dan membangun peradaban sedenter, yang kemajuannya begitu tersohor di era Jalan Sutra. Bangsa Kirghiz, sebaliknya, masih sangat kental kultur nomadennya. Serpihan budaya pengembaraan itu masih nampak kental dalam kehidupan sehari-hari.

Hanya karena berada di sisi perbatasan yang berbeda, orang-orang Uzbek di Halmiyon sekarang harus mengaitkan masa lalunya bersama dengan orang-orang Kirghiz, yang tersebar mulai dari Batken sampai ke Bishkek. Penyamaan bahasa, perasaan senasib sepenanggungan, penyamaan sejarah, adalah bagian dari proyek nasionalisme negara-negara baru di Asia Tengah. Bagi suku-suku minoritas yang tinggal di pinggiran perbatasan, nasionalisasi suku mayoritas kental terasa.

Sama asingnya dengan benda-benda kuno di museum sekolah, Bapak Juma membawa saya ke museum Manas, juga di dalam gedung sekolah. Manas adalah hikayat bangsa Kirghiz, kebanggaan peradaban kesusastraan dari sebuah bangsa pengembara. Pada tahun 1995, Kyrgyzstan merayakan 1000 tahun hikayat kepahlawanan Manas, menggelar berbagai pesta dan festival di seluruh negeri, menghabiskan dana jutaan dolar. Ketika sebuah negara miskin menghabiskan dana sebesar itu untuk merayakan sebuah dongeng hikayat, Anda tahu ada proyek dan cita-cita ambisius yang tersembunyi di baliknya.

Manas, kini sudah menjadi bagian dari jati diri bangsa Kirghiz.

"Tetapi sayang, anak-anak Uzbek di sini tidak tahu tentang Manas, atau susah sekali membayangkannya," kata Kepala Sekolah, "karena itu saya membuat Museum Manas di sini, supaya anak-anak bisa mengenal sejarah masa lalu."

Sejarah yang dimaksudnya, bukan sejarah leluhur mereka sendiri, tetapi sejarah bangsa pengembara Kirghiz yang berawal dari padang gembala dan kemah-kemah.

Warna merah membara mendominasi ruangan ini. Saya seperti berada dalam sebuah yurt, kemah pengembara. Manastyn Jurtu, Kemah Yurt Manas, demikian Bapak Juma menjuduli Museum ini. "Seribu Tahun Manas" dan "1995 Tahun Manas, Resolusi PBB dan UNESCO" menggiring para siswa kepada kebanggaan peradaban Kyrgyzstan. Gambar-gambar pahlawan Manas dan pejuang-pejuang padang gembala lainnya menghiasi dinding kemah ini. Juga ada foto patung Manas di Bishkek, pengantin tradisional Kirghiz, dan lambang negara Kyrgyzstan yang mengedepankan burung dan gunung salju.

Di tengah yurt ada replika buku raksasa "Kyrgyzstan Kyzyl Kitebi", atau "Buku Merah Kyrgyzstan". Ini bukan bukunya Lenin, Stalin, Mao Tsetung, atau Kim Il Sung. Walaupun sama-sama berjudul Red Book, Buku Merah Kyrgyzstan mendaftar spesies flora dan fauna langka di negara itu. Replika ini bisa dibuka, layaknya buku sungguhan. Di dalamnya ada tempelan gambar hewan dan tumbuhan aneh-aneh.

Sekarang Bapak Juma membawa saya ke ruang kelas. Murid-murid berbaris sebelum masuk kelas. Bisa dikatakan hampir semuanya adalah etnis Uzbek, dan semuanya ramai bercakap-cakap dalam bahasa Uzbek.

"Tetapi kami juga belajar bahasa Kirghiz," kata Bapak Juma yang sekarang membawa saya ke ruang kelas bahasa nasional.

Setiap kelas didesain sedemikian rupa untuk membawa suasana yang lebih alami. Misalnya untuk kelas bahasa Kirghiz, desain interiornya juga dibuat mirip-mirip kemah yurt, lengkap dengan siluet lubang matahari yang menjadi lambang negara. Untuk kelas bahasa Uzbek, desain interiornya seperti halnya rumah tradisional Uzbek, lengkap dengan barisan pilar-pilarnya yang berukir-ukir. Tak banyak slogan-slogan yang bertaburan di ruang kelas ini, seperti yang memenuhi kelas-kelas di Gulshan sana.

Kyrgyzstan, negeri yang sama sekali tidak bisa dibilang makmur, ternyata masih memperhatikan kualitas sekolah di ujung batas negaranya. Sebuah sekolah yang sampai detailnya pun dipikirkan masak-masak, mulai dari museum, hikayat pahlawan, hingga ornamen-ornamen yang ditempel dalam kelas. Walaupun di sini tak ada murid etnis Kirghiz, tetapi budaya Kirghiz dan Uzbek berpadu dengan apiknya. Di sini saya belajar bahwa menanamkan nasionalisme pada bangsa minoritas tidak perlu dengan jargon-jargon dan slogan kelas tinggi. Ornamen-ornamen indah dan gambar-gambar cantik jauh lebih efektif daripada semboyan-semboyan maya.

"Tentu saja saya cinta Kyrgyzstan," kata Bapak Juma ketika saya bertanya tentang arti nasionalisme baginya, "karena saya adalah warga negara Kyrgyzstan."


(Bersambung)

Sumber: Kompas.com
Suka dengan artikel ini? [Bagikan artikel ini ke teman2-mu di FACEBOOK. Klik disini]


Posted: 01 August 2008 13:042823 Reads - Print
Ratings
Please select your Rating:
No Ratings have been Posted.
Artikel Sebelumnya:
Berkelana ke Negeri-negeri Stan (71)

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (72)

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (73)

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (74)

Berkelana ke Negeri-negeri Stan (75)

Artikel Lainnya:
Renungan Harian Katolik RenunganPKarmCSE.com

(ads) Lowongan Kerja - Hairstylist - Jakarta

(ads) Lowongan Pekerjaan - Cashier untuk SPA - Jakarta

(ads) Lowongan Kerja Therapist SPA Jakarta

(ads) Lowongan Kerja Business Manager SPA - Jakarta

Koleksi ucapan/sms Selamat Tahun Baru 2011

Pesan Paus untuk para Imam: "Kita Harus nge-Blog"

Penyakit Kawasaki Hadir di Indonesia;; 5.000 Balita Menderita Penyakit Kawasaki;; RS Omni Dirikan Kawasaki Center

Netbook HP (Notebook mini Hewlett-Packard) yang paling dicari saat ini: HP mini 1013TU, HP 1169, HP 1179

Melakukan Lima Usaha Marketing (3)


Iklan-iklan di bawah ini titipan dari Sponsor.GSN SOEKI tidak bertanggung jawab dengan isi iklan di bawah ini:




It's free for YOU. Gratis untuk ANDA!